SELASIHMEDIA.COM – Festival budaya lampu colok yang digelar pada malam ke-27 Ramadan berlangsung dengan semarak. Usai waktu Magrib, halaman rumah warga di Bengkalis tampak bercahaya oleh lampu pelita berbahan minyak yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai lampu colok.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas dalam menghias pekarangan rumah masing-masing. Cahaya lampu colok yang berpendar juga menerangi sejumlah ruas jalan, menciptakan suasana malam yang hangat dan penuh nuansa tradisi.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis turut memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian warisan budaya tak benda ini. Melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Bengkalis, Festival Budaya Lampu Colok kembali diselenggarakan dalam bentuk perlombaan.
Meskipun berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran, kegiatan budaya tersebut tetap dilaksanakan. Pembukaan festival digelar di Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis. Bupati Bengkalis, Kasmarni, hadir langsung untuk membuka acara dengan menyalakan lampu colok pada menara yang berada di Dusun Kampung Parit, Senin (16/3/2026) malam.
Lokasi menara yang berada di tepi jalan utama membuat masyarakat berbondong-bondong menyaksikan keindahan lampu colok pada menara setinggi lebih dari 15 meter tersebut. Kasmarni menyalakan api pertama pada menara, yang kemudian disambut meriahnya dentuman kembang api.
Setelah itu, para pemuda Dusun Kampung Parit melanjutkan dengan menyalakan lampu satu per satu. Perlahan, susunan lampu tersebut membentuk visual masjid empat dimensi yang memukau. Dalam waktu singkat, masyarakat berkumpul untuk menikmati keindahan tampilan cahaya yang artistik tersebut.
Kasmarni menyampaikan bahwa tradisi lampu colok merupakan warisan budaya masyarakat Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun, khususnya dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan dan menyongsong Hari Raya Idulfitri.
“Tradisi ini tidak hanya menambah indah Kampung kita dengan cahaya lampu colok, tetapi juga simbol kebersamaan, kreatifitas dan gotong royong masyarakat kita,” ungkap Bupati Bengkalis.
Ia juga menambahkan bahwa melalui festival ini, masyarakat dapat menampilkan kreasi lampu colok secara artistik sekaligus menjaga keberlanjutan budaya tak benda yang dimiliki Kabupaten Bengkalis. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang tengah diterapkan pemerintah daerah, komitmen untuk melestarikan budaya tetap dijaga.
“Kita tetap melaksanakannya ditengah efesiensi anggaran ini guna menjaga kelestarian budaya. Serta memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkarya dan berpartisipasi dalam kegiatan yang positif ini,” ungkapnya.
Pemerintah daerah meyakini bahwa semangat masyarakat dalam melestarikan budaya tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan tumbuh dari rasa kebersamaan, kepedulian, dan kecintaan terhadap tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Disparbudpora Bengkalis, Edi Sakura, menyampaikan bahwa festival tahun ini diikuti oleh 13 kelompok dari berbagai kecamatan. Total hadiah yang disediakan masih sama seperti tahun sebelumnya, dengan dukungan dari Bank Riau Kepri Syariah.
“Hadiah masih sama dengan tahun lalu, juara satu akan mendapatkan hadiah sekitar 15 juta rupiah, dan seterusnya sama dengan tahun lalu,” ungkapnya.
Edi juga mengakui adanya penurunan jumlah peserta dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 21 kelompok. Menurutnya, tingginya biaya menjadi salah satu kendala bagi beberapa daerah untuk berpartisipasi.
“Sebenarnya karena sudah tradisi masyarakat sangat antusias. Namun karena biaya terlalu tinggi beberapa daerah yang biasa ikut serta tidak mampu untuk ikut serta di tahun ini,” tandasnya.
Sebagai penutup, Festival Budaya Lampu Colok tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi momentum penting dalam mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga identitas budaya Melayu agar tetap hidup dan lestari di tengah perkembangan zaman.
Sumber: TribunPekanbaru.com
