SELASIHMEDIA.COM – Penumpukan sampah kembali terjadi di Jalan Singgalang, Kelurahan Tengkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan warga sekitar, terutama karena bau tidak sedap yang mulai menyebar dan berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain itu, masyarakat juga cemas bahwa volume sampah akan terus meningkat hingga menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, mengingat biasanya terjadi lonjakan produksi sampah rumah tangga pada periode tersebut. Ironisnya, lokasi yang kini kembali dipenuhi tumpukan sampah tersebut sebelumnya telah dinyatakan sebagai tempat pembuangan ilegal oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru.
Bahkan, sempat dilakukan penertiban dengan pemasangan spanduk larangan di titik awal penumpukan. Namun, upaya tersebut tampaknya belum memberikan efek jera. Setelah sempat bersih selama beberapa hari, warga kembali memanfaatkan area di sepanjang pinggir Jalan Singgalang sebagai tempat pembuangan sampah liar.
Berdasarkan pantauan Tribunpekanbaru.com pada Senin (16/3/2026), titik pembuangan sampah kini bergeser dari lokasi sebelumnya yang telah dipasangi peringatan. Meskipun demikian, masih berada dalam kawasan yang sama, yakni di sepanjang bahu jalan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih rendah, dan pengawasan dari pihak terkait juga dinilai belum optimal.
Anto, salah seorang warga yang tinggal di Jalan Singgalang, mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai keberadaan tumpukan sampah sangat mengganggu kenyamanan lingkungan, terlebih karena status lokasi tersebut sudah jelas dinyatakan ilegal oleh pemerintah.
“Jika sudah ilegal, harusnya ditutup saja. Karena saya lihat, masih rutin juga yang buang sampah di sana,” ujar Anto.
Lebih lanjut, Anto mengkhawatirkan dampak yang akan timbul jika penumpukan sampah dibiarkan berlarut-larut, terutama setelah Lebaran nanti. Ia menilai peningkatan jumlah sampah rumah tangga akan memperparah kondisi yang sudah ada.
“Kalau terus dibiarkan menumpuk, malah jadi masalah baru. Baunya dan kalau hujan air jadi tergenang di lokasi,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Ros. Ia mengaku kerap melihat orang-orang yang membuang sampah di lokasi tersebut, meskipun tidak mengenali siapa mereka. Menurutnya, pelaku pembuangan sampah liar justru bukan berasal dari lingkungan sekitar.
“Yang buang sampah bukan warga di sini. Orang jauh. Tak tahu darimana. Mungkin dari perumahan,” ungkap Ros membuka pembicaraan dengan Tribunpekanbaru.com.
Ros menambahkan bahwa keberadaan sampah tersebut sangat mengganggu, terutama karena posisinya berada tepat di depan tempat usahanya. Bau busuk yang ditimbulkan semakin terasa menyengat, khususnya saat hujan turun. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi warga sekitar.
“Baunya sampai ke sini. Apalagi kalau hujan,” ujarnya. Ia juga mengaku pernah mencoba menegur oknum yang membuang sampah sembarangan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil, bahkan berujung pada respons yang tidak menyenangkan.
“Pernah saya tegur. Tapi saya malah dimarahi. Katanya, sebelum usaha saya ada, lokasi itu pembuangan sampah itu lebih dulu ada,” terang Ros.
Melihat kondisi yang terus berulang ini, diperlukan langkah tegas dan konsisten dari pemerintah serta kesadaran kolektif masyarakat untuk mengatasi persoalan sampah ilegal di kawasan tersebut.
Penegakan aturan, pengawasan yang lebih ketat, serta penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai menjadi kunci penting agar permasalahan ini tidak terus berlarut-larut. Tanpa adanya tindakan nyata, dikhawatirkan penumpukan sampah akan semakin parah dan menimbulkan dampak lingkungan maupun kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.
Sumber: TribunPekanbaru.com
