Viral Petugas Klinik Main Game Saat Pasien Sesak Napas, Pakar Soroti Sistem Layanan

SELASIHMEDIA.COM – Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang petugas klinik yang diduga tengah bermain game online saat seorang pasien datang untuk mendapatkan pelayanan medis.

Rekaman tersebut dengan cepat menjadi perbincangan publik karena dinilai menunjukkan sikap yang tidak profesional dalam situasi pelayanan kesehatan, terutama ketika pasien membutuhkan penanganan segera.

Menanggapi hal tersebut, dokter sekaligus pakar kebijakan kesehatan, Dicky Budiman, menegaskan bahwa peristiwa seperti ini tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan individu semata. Ia menilai, jika kejadian tersebut benar adanya, maka terdapat persoalan yang lebih besar dan mendasar dalam sistem pelayanan kesehatan yang bersangkutan.

“Ini sekali lagi bukan sekedar optimum, tapi ini adalah potensi kegagalan sistem layanan kesehatan ya,” tegas Dicky pada Tribunnews, Rabu (1/4/2026).

Lebih lanjut, dr. Dicky menjelaskan bahwa apabila kasus tersebut terbukti benar, maka hal itu mengindikasikan adanya masalah serius dalam tata kelola layanan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan aspek keselamatan pasien.

Ia menilai bahwa insiden seperti ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan nyawa pasien. Ia kemudian mengidentifikasi setidaknya tiga bentuk kegagalan utama yang berpotensi terjadi dalam kasus tersebut.

Pertama adalah kegagalan dalam budaya keselamatan pasien atau safety culture failure. Dalam standar pelayanan kesehatan global, pasien dengan gejala seperti sesak napas seharusnya langsung masuk dalam kategori prioritas tinggi dan mendapatkan penanganan segera.

Namun, dalam kasus yang viral tersebut, tidak terlihat adanya respons cepat dari petugas terhadap kondisi pasien. Padahal, dalam praktik medis, kondisi sesak napas terutama pada pasien lanjut usia tidak boleh dianggap sepele karena berisiko tinggi. Keterlambatan penanganan, bahkan hanya dalam hitungan menit, dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan.

“Dan keterlambatan penanganan beberapa menit saja itu bisa atau dapat meningkatkan mortalitas si pasien secara signifikan,” jelasnya.

Kedua, dr. Dicky menyoroti adanya potensi kegagalan dalam sistem triase serta penerapan standar operasional prosedur (SOP). Dalam pelayanan kesehatan, bahkan di tingkat klinik sekalipun, seharusnya sudah diterapkan sistem triase sederhana untuk menilai kondisi pasien sejak awal, termasuk pemeriksaan jalur napas, pernapasan, dan sirkulasi.

Namun, berdasarkan video yang beredar, pasien justru diarahkan untuk menjalani proses administrasi terlebih dahulu tanpa adanya penilaian kondisi darurat.

Ketiga adalah kegagalan dalam aspek supervisi dan akuntabilitas. Perilaku petugas yang diduga bermain game saat menjalankan tugas menunjukkan lemahnya pengawasan serta tidak adanya penerapan disiplin kerja yang berbasis kinerja.

Kondisi ini tidak hanya mencerminkan pelanggaran etika profesi, tetapi juga berpotensi masuk dalam kategori maladministrasi dalam pelayanan publik yang seharusnya mengutamakan keselamatan dan kepentingan pasien.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemangku kebijakan bahwa dalam dunia pelayanan kesehatan, keterlambatan sekecil apa pun dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, sistem harus dirancang untuk mampu merespons kondisi darurat secara cepat dan tepat tanpa terhambat oleh prosedur administratif yang tidak mendesak.

“Sekali lagi, ini adalah jika terbukti benar, ya ini bukan sekedar perilaku individu tapi sekali lagi mencerminkan kegagalan tadi. Dan yang paling crusial dalam pelayanan kesehatan, delay is dangerous,” tegas dr. Dicky.

Ia juga menekankan pentingnya dilakukan verifikasi fakta oleh otoritas kesehatan setempat guna memastikan kebenaran kejadian tersebut. Selain itu, diperlukan audit menyeluruh terhadap sistem pelayanan di fasilitas kesehatan terkait untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Video yang beredar sendiri memperlihatkan seorang wanita lanjut usia yang sedang duduk di meja pelayanan, yang diduga tengah menunggu penanganan medis. Situasi tersebut semakin memperkuat kekhawatiran publik terhadap kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam hal respons terhadap pasien dengan kondisi darurat.

Kronologi Kejadian Menurut Keluarga Korban

Halo semua, ini kronologi kejadian yang aku alami bareng nenekku kemarin. Saat itu nenek aku mengalami sesak napas yang cukup parah, jadi kami langsung pergi ke klinik.Pas tiba di sana, kami disuruh mendaftar dulu, aku mengerti kalau itu adalah SOP, tapi yang bikin khawatir adalah petugas laki-laki yang sedang fokus bermain game sambil menangani pendaftaran. Rasanya seharusnya dia lebih sigap mengingat kondisi nenekku yang sudah tidak kuat. Di kamar pasien yang sedang kosong, ada seorang teman petugas perempuan yang sedang tiduran, Ketika dipanggil untuk membantu, dia bilang mau ke toilet terlebih dahulu padahal toilet berada di luar kamar. Saat dia keluar, petugas laki-laki yang lagi main game masih tidak bergerak untuk mencari alat yang dibutuhkan. Padahal seharusnya dia langsung bergegas mencari alat daripada menunggu teman cewe nya selesai dari toilet. Aku bahkan bertanya padanya kenapa tidak langsung mencari alat dari tadi, tapi dia tetap fokus bermain game.Karena kondisi nenekku semakin parah, aku hampir memutuskan untuk meninggalkan klinik. Saat akhirnya nenekku diperiksa, ternyata alat uap yang dibutuhkan sedang habis. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saat sudah naik motor dan mulai berjalan, kami dipanggil kembali karena katanya ada satu alat uap yang tertindih oleh barang dan baru ditemukan. Melihat kondisi nenekku yang makin sulit bernapas, aku memutuskan untuk tetap tinggal dan menggunakan alat uap tersebut. Meskipun proses uap nya tidak lama, alhamdulillah kondisi nenekku membaik dan tidak sesak napas seperti sebelumnya.

Dengan adanya kejadian ini, diharapkan seluruh fasilitas layanan kesehatan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan yang diterapkan. Peningkatan kualitas pengawasan, kepatuhan terhadap SOP, serta penegakan budaya keselamatan pasien menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi demi menjaga kepercayaan masyarakat dan keselamatan pasien.

Sumber: Tribunkesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *