Inspirasi Busana Lebaran Keluarga, Sarimbit Elzatta Tawarkan Desain Elegan dan Nyaman

SELASIHMEDIA.COM – Ramadan kini telah memasuki sembilan hari terakhir. Momen tersebut menandakan bahwa Hari Raya Idulfitri semakin dekat. Seiring dengan itu, berbagai kebutuhan untuk menyambut Lebaran mulai diburu masyarakat, termasuk koleksi busana yang akan dikenakan saat hari raya. Salah satu inspirasi yang menarik perhatian tahun ini adalah busana Lebaran dengan sentuhan gaya khas Mesir.

Inspirasi dari budaya dan seni Mesir menawarkan tampilan yang unik sekaligus elegan. Beberapa ide menarik dalam memilih baju Lebaran dapat diambil dari motif geometris Islami yang banyak ditemukan dalam arsitektur dan seni dekoratif Mesir. Negara tersebut dikenal kaya dengan ornamen mashrabiya, yakni pola kayu berongga yang biasanya terdapat pada jendela bangunan tradisional. Motif ini kemudian banyak diterjemahkan ke dalam desain bordir maupun pola cetak pada busana seperti gamis dan kaftan.

Selain motif, pemilihan warna juga menjadi ciri khas tersendiri dalam inspirasi busana ala Mesir. Warna emas, turquoise, putih gading, serta hitam pekat kerap digunakan dalam berbagai karya seni Mesir. Kombinasi warna-warna tersebut mampu memberikan kesan mewah sekaligus elegan, sehingga cocok dijadikan referensi untuk busana Lebaran yang ingin tampil anggun namun tetap modern.

Dari segi potongan busana, siluet longgar juga menjadi salah satu ciri yang identik dengan gaya busana Timur Tengah. Kaftan khas Mesir dengan potongan longgar dan jatuh (flowing) dapat menjadi inspirasi utama untuk menciptakan busana Lebaran yang nyaman dipakai sepanjang hari, namun tetap terlihat anggun dan berkelas.

Inspirasi busana Lebaran dengan nuansa Mesir tersebut turut dikenakan oleh penyanyi Marcell Siahaan. Pelantun lagu “Semusim” itu tampil mengenakan sarimbit koleksi Elzatta. Marcell menghadiri Glam Meet Up Festival yang digelar pada 8 Maret 2026 di Main Atrium Ambarukmo Plaza, Yogyakarta.

Acara tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Glam Meet Up yang sebelumnya telah diselenggarakan di 12 kota di Indonesia. Koleksi bernuansa Mesir yang dikenakan Marcell dipadukan dengan gaya khasnya, sehingga memperlihatkan fleksibilitas desain busana tersebut.

Desainnya dinilai mampu menyesuaikan dengan karakter dan gaya personal setiap pemakainya, tanpa menghilangkan kesan elegan yang menjadi ciri khas koleksi tersebut. Terinspirasi dari Mesir sebagai simbol keteguhan perempuan, Glam Meet Up Festival juga menjadi momentum peluncuran koleksi sarimbit terbaru dari Elzatta.

Koleksi ini menghadirkan delapan seri yang terinspirasi dari kisah perempuan-perempuan Mesir yang dikenal memiliki keteguhan dan pengaruh besar dalam sejarah. Delapan seri tersebut antara lain Al-Qibtiyah, Masyitah, Ummumusa, Miryam, Asiyah, Maryam, Hajar, hingga Sinai.

“Untuk Raya 2026, kami menghadirkan Cahaya Keteguhan, sebuah persembahan yang terinspirasi dari keteguhan perempuan-perempuan berpengaruh di Mesir. Mereka yang berdiri tegak di tengah zaman, membawa cahaya perubahan,” ujar Head Designer Elcorps, M. Rizky Idham.

Setiap seri dalam koleksi tersebut memadukan desain modern dengan sentuhan elegan. Siluet yang anggun dipadukan dengan pilihan warna yang beragam, mulai dari nuansa lembut hingga warna yang lebih berani. Selain itu, koleksi ini juga menggunakan material berkualitas, seperti katun hingga organza premium, namun tetap ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau.

Busana tersebut dirancang sebagai sarimbit untuk keluarga, sehingga dapat dikenakan oleh ayah, ibu, maupun anak. Dengan konsep tersebut, koleksi ini diharapkan dapat menemani perayaan Idulfitri keluarga dengan tampilan yang serasi, selaras, dan tetap memiliki makna.⁠

“Melalui riset dan persiapan yang matang, koleksi Sarimbit Elzatta tahun ini hadir dengan tema Cahaya Keteguhan. Sebagai salah satu pelopor fashion muslim yang telah hadir sejak 2012, kami meyakini koleksi ini akan kembali mendapat sambutan hangat dari para pecinta Sarimbit Elzatta, sebagaimana yang koleksi-koleksi Elzatta dalam beberapa tahun terakhir,” ujar CEO Elzatta, Elidawati.

Rangkaian acara Glam Meet Up Festival tidak hanya menampilkan koleksi busana, tetapi juga menghadirkan sesi talkshow yang membahas berbagai nilai kehidupan. Salah satunya adalah sesi bersama Ustadzah Ghinan Rhinda yang mengangkat tema nilai-nilai keislaman yang selaras dengan dinamika kehidupan perempuan masa kini.

Acara tersebut juga menghadirkan influencer Adelia Pasha sebagai narasumber. Dalam sesi tersebut, talkshow tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk berbagi pengalaman dan refleksi diri. Peserta diajak untuk merenungkan berbagai kisah kehidupan, sehingga setiap cerita yang disampaikan dapat memberikan makna serta memperkuat hati para peserta yang hadir.

Sebagai penutup acara, pengunjung juga disuguhkan penampilan spesial yang menambah semarak suasana festival. Penampilan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana koleksi busana yang ditampilkan dapat dipadukan dengan berbagai gaya personal, sehingga menunjukkan bahwa desain yang dihadirkan memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan karakter setiap pemakainya.

Tren Gamis “Bini Orang”

Tren busana muslim memang terus mengalami perkembangan setiap tahunnya, terutama menjelang momen Lebaran. Desain busana yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari model yang sederhana hingga yang lebih modern dengan berbagai sentuhan detail menarik.

Pada tahun-tahun terakhir, model baju yang longgar, sederhana, serta menggunakan warna-warna lembut cenderung lebih diminati masyarakat. Detail minimalis juga menjadi pilihan karena memberikan kesan elegan namun tetap nyaman dipakai dalam berbagai aktivitas saat hari raya.

Memasuki tahun 2026, salah satu model busana perempuan yang diprediksi akan menjadi tren saat Lebaran adalah gamis yang populer dengan sebutan “gamis bini orang”. Meski terdengar unik dan sedikit nyeleneh, istilah tersebut sebenarnya memiliki makna tersendiri. Penamaan itu merujuk pada gaya busana yang sederhana, anggun, dan identik dengan tampilan perempuan yang sudah menikah.

Dikutip dari TribunJakarta.com, nama gamis “Bini Orang” ini terinspirasi dari gaya berpakaian para istri. Hal tersebut disampaikan oleh Sasqiah, karyawan toko Hagia Sophia di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

“Karena kan yang pakainya pasti istri orang,” katanya. Menurut Sasqiah, tampilan gamis “Bini Orang” umumnya dibuat sederhana dengan hanya menggunakan satu warna utama. Warna yang dipilih biasanya adalah warna-warna lembut atau soft sehingga tidak terlihat terlalu mencolok.

Desain tersebut justru memberikan kesan anggun dan dewasa bagi pemakainya. Selain itu, modelnya juga dibuat longgar sehingga nyaman dipakai sepanjang hari, terutama saat menjalani berbagai aktivitas selama perayaan Lebaran. Di tokonya, Sasqiah juga menjual model gamis “Bini Orang” yang diproduksi secara mandiri. “Ini kita punya konveksi sendiri,” lanjut Sasqiah.

Fenomena munculnya berbagai tren busana muslim ini menunjukkan bahwa industri fashion muslim di Indonesia terus berkembang dan beradaptasi dengan selera masyarakat. Selain menampilkan unsur estetika, busana Lebaran juga semakin memperhatikan aspek kenyamanan serta nilai budaya dan religius yang melatar belakanginya.

Dengan semakin beragamnya pilihan desain, masyarakat kini memiliki lebih banyak referensi dalam menentukan busana yang akan dikenakan saat Idulfitri. Baik yang terinspirasi dari budaya Timur Tengah seperti gaya Mesir, maupun model sederhana seperti gamis “Bini Orang”, semuanya menawarkan alternatif gaya yang dapat disesuaikan dengan selera, kebutuhan, serta karakter masing-masing individu.

Sumber: Tribunlifestyle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *