Kanker Paru-Paru Tidak Hanya Menyerang Perokok, Gejala Sering Diabaikan

SELASIHMEDIA.COM – Jumlah warga Amerika Serikat yang meninggal akibat kanker paru-paru setiap tahunnya tercatat lebih tinggi dibandingkan total kematian akibat kanker payudara, kanker prostat, dan kanker usus besar jika digabungkan.

Data ini disampaikan oleh American Cancer Society dan menunjukkan betapa seriusnya penyakit ini dalam konteks kesehatan masyarakat. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi keliru bahwa kanker paru-paru hanya menyerang perokok aktif, padahal anggapan ini tidak sepenuhnya benar dan justru berpotensi menyesatkan.

Kesalahpahaman tersebut dinilai berbahaya karena dapat membuat sebagian orang mengabaikan risiko yang sebenarnya ada. Para peneliti menegaskan bahwa asumsi bahwa hanya perokok yang rentan terhadap kanker paru-paru dapat menghambat deteksi dini pada kelompok non-perokok, sehingga meningkatkan kemungkinan penyakit baru terdiagnosis pada stadium lanjut ketika penanganan menjadi lebih sulit.

Mengutip The Cool Down (TCD), Dr. Jun Zhang, Ph.D., Wakil Presiden Riset Onkologi di OSF HealthCare Cancer Institute, menjelaskan bahwa hingga 20% pasien kanker paru-paru ternyata tidak memiliki riwayat merokok sama sekali. Hal ini berarti sekitar 40.000 warga Amerika Serikat yang tidak merokok tetap didiagnosis dengan salah satu jenis kanker paling mematikan ini setiap tahunnya.

“Kanker paru-paru umumnya disebut sebagai ‘penyakit perokok’. Namun kini, kami melihat semakin banyak pasien tanpa riwayat merokok,” ujar Dr. Zhang.

Pernyataan ini mempertegas bahwa faktor risiko kanker paru-paru jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan merokok. Anggapan yang keliru ini dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien.

Deteksi dini diketahui mampu meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan, tetapi individu yang tidak merokok cenderung tidak menjalani pemeriksaan atau skrining karena merasa dirinya tidak berisiko. Akibatnya, banyak kasus baru teridentifikasi ketika penyakit sudah berada pada tahap lanjut.

“Gejala awal bisa berupa batuk dan sesak napas, tetapi sering diabaikan karena mereka tidak merokok dan merasa tidak perlu diperiksa,” jelasnya.

Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran publik terhadap gejala awal kanker paru-paru, tanpa memandang riwayat merokok. Sejumlah faktor penyebab masih terus diteliti oleh para ilmuwan.

Dr. Zhang menyebutkan bahwa perempuan keturunan Asia yang tidak merokok tampaknya memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain, meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami.

Saat ini, para peneliti dari University of California San Francisco, UC Davis, dan Stanford masih berupaya mengidentifikasi faktor biologis maupun lingkungan yang berperan dalam fenomena tersebut. Selain faktor yang masih diteliti, terdapat pula faktor risiko yang sudah lebih jelas, salah satunya adalah polusi udara.

Partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5 telah diidentifikasi sebagai penyebab utama kanker paru-paru pada populasi non-perokok di berbagai belahan dunia. Partikel ini dapat berasal dari sumber alami seperti letusan gunung berapi, namun sebagian besar juga dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti proses industri dan penggunaan bahan bakar fosil seperti bensin.

“Jika partikel ini terhirup, tubuh tidak bisa mengeluarkannya, Jika merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru, maka secara global PM2.5 adalah penyebab kedua.” ungkap Dr. Zhang.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas udara memiliki peran besar terhadap kesehatan paru-paru masyarakat.Faktor lain yang sering kurang disadari adalah paparan radon.

“Radon dilepaskan dari material radioaktif di dalam tanah dan bisa terakumulasi di dalam rumah, terutama jika ventilasinya buruk,” jelasnya.

Gas radon tidak memiliki warna maupun bau, sehingga sulit dideteksi tanpa alat khusus, namun diketahui menjadi penyebab kedua kanker paru-paru di Amerika Serikat setelah merokok. Kondisi ini menjadikan radon sebagai ancaman tersembunyi yang perlu diwaspadai, terutama di lingkungan hunian tertutup.

Batuk yang berlangsung lama memang tidak selalu menandakan kondisi serius, tetapi tetap perlu diwaspadai, terutama jika disertai gejala lain seperti sesak napas. Dr. Zhang menyarankan agar masyarakat tidak ragu untuk memeriksakan diri ke tenaga medis, terutama jika penyebab umum seperti pneumonia, refluks asam, atau gangguan jantung telah disingkirkan.

Dalam beberapa kasus, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan dapat diperlukan untuk memastikan kondisi paru-paru secara lebih akurat. Untuk upaya pencegahan, masyarakat disarankan mengurangi paparan terhadap polusi udara dan radon.

Langkah-langkah seperti menggunakan kendaraan listrik, mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin, serta beralih ke aktivitas yang lebih ramah lingkungan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum dapat membantu menekan tingkat polusi. Selain itu, penggunaan masker saat kualitas udara buruk juga dapat menjadi langkah perlindungan tambahan.

Sumber: Tribunkesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *