Kabar baik menyelimuti Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, setelah wilayah ini dinyatakan bersih dari titik api atau zero hotspot selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu, 8 April 2026. Keberhasilan ini menjadi titik balik krusial setelah hampir dua bulan lamanya daerah tersebut dibelenggu oleh Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang hebat. Lokasi kebakaran terakhir yang berhasil ditangani secara tuntas berada di Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti. Berdasarkan laporan di lapangan, api telah dinyatakan padam sejak Minggu, 5 April 2026, yang kemudian diikuti dengan proses pendinginan intensif hingga Senin, 6 April 2026, guna memastikan sisa-sisa asap di dalam tanah gambut benar-benar hilang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan M.Si, menyatakan bahwa terhitung sejak Selasa, 7 April 2026, seluruh personel gabungan yang terdiri dari berbagai instansi telah ditarik mundur dan kembali ke markas masing-masing. Zulfan mengungkapkan rasa syukur atas nihilnya kasus Karhutla dalam beberapa hari terakhir dan berharap kondisi kondusif ini dapat bertahan lama tanpa munculnya titik api baru. Padamnya api merupakan hasil dari kerja keras petugas gabungan yang tak kenal lelah berjibaku memadamkan api di berbagai lokasi sulit, seperti di Kecamatan Teluk Meranti, Kuala Kampar, hingga Kecamatan Bunut.
Selama dua bulan terakhir, upaya pemadaman berlangsung secara estafet dan sambung-menyambung. Luasnya area yang terbakar sempat membuat situasi nyaris tidak terkendali karena api terus meluas dan titik panas baru bertambah hampir setiap hari. Meskipun bantuan Helikopter Water Bombing (WB) telah dikerahkan secara maksimal, tantangan di lapangan tetaplah berat. Namun, titik terang mulai muncul saat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan BPBD Riau meluncurkan program Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Zulfan mengakui bahwa teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan ini terbukti jauh lebih ampuh dan efektif dalam menekan jumlah titik api hingga benar-benar hilang. Dengan menyemai garam di langit Riau, khususnya pada area yang memiliki potensi awan hujan yang cukup, hujan yang dihasilkan mampu menjangkau area kebakaran yang sulit ditembus oleh jalur darat. “Kami sangat mengapresiasi efektivitas OMC ini. Selama awan mendukung di wilayah kebakaran, intervensi ini sangat meringankan beban tim di lapangan,” tegasnya.
Hingga saat ini, BNPB masih terus melanjutkan program penyemaian garam tersebut sebagai langkah preventif di wilayah-wilayah rentan seperti Pelalawan. Meskipun saat ini masih terpantau tiga titik panas (hotspot) di wilayah Pangkalan Kerinci, pihak BPBD memastikan bahwa titik tersebut bukanlah berasal dari kebakaran hutan. Berdasarkan analisis koordinat, titik panas tersebut merupakan hasil dari aktivitas industri atau cerobong asap pabrik yang rutin terdeteksi oleh satelit. Dengan sinergi antara teknologi OMC dan kesiapsiagaan personel di darat, diharapkan ancaman Karhutla di Pelalawan tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi masyarakat setempat.
Sumber: Tribunpekanbaru
