SELASIHMEDIA.COM – Di balik hangatnya tradisi silaturahmi serta kebiasaan berbagi hidangan saat Idul Fitri, terdapat persoalan yang sering terabaikan, yakni meningkatnya jumlah sampah makanan atau food waste.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Meti Ekayani, memandang fenomena ini sebagai bentuk paradoks dalam pola konsumsi masyarakat. Niat untuk menghormati dan memuliakan tamu dengan menyajikan makanan dalam jumlah besar justru kerap berujung pada pemborosan.
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam budaya masyarakat Indonesia yang juga banyak ditemui di negara-negara Asia dan Timur Tengah penyediaan makanan dalam jumlah melimpah sering dianggap sebagai simbol penghormatan kepada tamu. Akibatnya, banyak rumah tangga menyiapkan hidangan jauh melampaui kebutuhan sebenarnya.
“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelasnya.
Situasi ini semakin diperburuk oleh kurangnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan secara matang jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan mengonsumsinya.
Fenomena ini menjadi semakin nyata selama bulan Ramadan hingga perayaan Idul Fitri. Saat berbuka puasa, masyarakat kerap membeli beragam jenis makanan karena dorongan “lapar mata”. Namun ketika waktu makan tiba, tidak semua makanan tersebut benar-benar dikonsumsi.
“Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” katanya.
Selain itu, perubahan pola aktivitas selama Ramadan juga turut memicu terjadinya pemborosan makanan. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda berbuka puasa di luar rumah, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah.
“Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.
Meti menambahkan bahwa persoalan food waste tidak hanya berhenti pada pemborosan makanan semata, tetapi juga berdampak pada meningkatnya volume sampah yang harus ditangani oleh kota. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi produksi sampah dari sumbernya.
“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul, angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.
Padahal, di sejumlah negara maju, sistem pengelolaan sampah telah dirancang untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari rumah tangga, salah satunya melalui skema pembayaran iuran berdasarkan volume sampah yang dihasilkan.
Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah. Ketika limbah makanan tercampur dengan sampah anorganik seperti kertas atau plastik, material yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi menjadi rusak dan tidak lagi dapat dimanfaatkan.
“Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong adanya perubahan perilaku masyarakat, khususnya melalui perencanaan konsumsi yang lebih matang serta pembiasaan memilah sampah sejak dari tingkat rumah tangga. Limbah makanan yang tidak dapat dihindari juga masih memiliki potensi untuk diolah kembali, misalnya menjadi kompos atau pakan melalui budidaya maggot.
“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” tutupnya.
Momentum Ramadan dan Idul Fitri seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang berbagi dan mempererat silaturahmi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kesadaran akan pentingnya konsumsi yang bijak dan bertanggung jawab. Dengan perencanaan yang lebih matang serta kebiasaan memilah dan mengelola limbah sejak dari rumah tangga, diharapkan jumlah sampah makanan dapat ditekan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari sisa konsumsi yang ada.
Sumber: Tribunkesehatan
