SELASIHMEDIA.COM – Memasuki hari ke-27 Bulan Suci Ramadan, masyarakat di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) menggelar Festival Budaya Mariam Buluh sebagai bentuk kemeriahan dan pelestarian tradisi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Tepak Sirih yang berada di Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan (TPTM), Kabupaten Rohil.
Salah satu peserta yang ikut ambil bagian adalah Aidil, siswa kelas VI Sekolah Dasar (SD).Aidil tidak mengikuti lomba seorang diri. Ia bersama tiga rekannya membentuk sebuah tim. Mereka bekerja sama mulai dari mencari bambu di hutan hingga merakitnya menjadi mariam buluh.
Aidil mengungkapkan bahwa proses pembuatan mariam buluh cukup mudah dan justru lebih menyenangkan dibandingkan bermain game di gawai.
“Senanglah buat mariam buluh daripada main game, tinggal membuat lubang pakai pahat terus dibuat petaknya. Setengah hari sudah siap mariam buluh kami,” ujarnya.
Dengan penuh semangat, Aidil dan timnya membawa hasil karya mereka menuju halaman kantor kecamatan dengan cara dipikul bersama. Setelah pelaksanaan salat tarawih berjamaah pada Senin (16/3/2026) malam, ribuan masyarakat mulai memadati lokasi acara di halaman Kantor Camat TPTM untuk menyaksikan festival tersebut.
Sebelum mariam buluh dibunyikan, acara diawali dengan seremoni pembukaan oleh Camat TPTM, Muhammad Zuhri. Peresmian ditandai dengan penyulutan mariam buluh secara simbolis oleh camat, yang kemudian diikuti oleh unsur pimpinan kecamatan (Upika) serta tokoh masyarakat setempat.
Ketua Lembaga Tepak Sirih, Muhammad Sarbaini, menjelaskan bahwa mariam buluh merupakan tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Festival ini sendiri telah digelar sebanyak enam kali sejak tahun 2021, meskipun sempat terhenti akibat pandemi COVID-19.
“Festival tahun ini adalah yang keenam, sempat dihentikan karena covid,” ujar pria yang akrab disapa Rahmat Pantun itu, Selasa (17/3/2026).
Peserta dalam festival ini berasal dari kalangan pelajar SD hingga SMP, dengan jumlah sekitar 25 orang. Meski demikian, penonton yang hadir berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Sarbaini juga menegaskan bahwa anak-anak sudah terbiasa memainkan mariam buluh, terutama saat Ramadan.
“Ini memang sudah menjadi tradisi, anak-anak sering bermain mariam buluh saat Bulan Suci Ramadan seperti ini,” ujarnya.
Dalam proses penilaian, dewan juri menggunakan aplikasi untuk mengukur kekuatan suara yang dihasilkan dari masing-masing mariam buluh. Setiap peserta diberikan tiga kesempatan untuk membunyikan alat tersebut, dan hasil terbaik dari ketiga percobaan itulah yang menjadi dasar penilaian.
Mariam buluh buatan Aidil berhasil meraih posisi ketiga. Namun, alat tersebut akhirnya pecah karena bambu yang digunakan masih muda, meskipun mampu menghasilkan suara yang cukup keras. Sarbaini menyampaikan bahwa para pemenang mendapatkan berbagai hadiah berupa uang tunai, bingkisan, sertifikat, serta piala.
Total terdapat enam pemenang yang ditetapkan, mulai dari juara satu hingga harapan tiga. Festival mariam buluh ini kini telah menjadi salah satu agenda tahunan dalam sektor pariwisata di Kabupaten Rohil.
Hal ini turut menarik perhatian Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Rohil, Hasian Harahap, yang hadir langsung menyaksikan kegiatan tersebut. Sarbaini juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga acara dapat terlaksana dengan baik.
“Alhamdulillah, acara berjalan sukses dan lancar. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor dan donatur yang telah menyisihkan rezekinya untuk mendukung pelestarian budaya ini. Tanpa dukungan semua pihak, kegiatan ini tidak akan semegah ini,” ujarnya.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah generasi muda. Tradisi mariam buluh diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Rohil di masa mendatang.
Sumber: TribunPekanbaru.com
