Pemerintah Diingatkan Tetap Waspada Meski Kasus Campak Turun Drastis, Imunisasi Jadi Sorotan Utama

Pemerintah diminta untuk tetap waspada meskipun terjadi penurunan signifikan dalam jumlah kasus campak di Indonesia. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI-P, Edy Wuryanto, menegaskan bahwa penurunan hingga 93 persen tidak boleh membuat pemerintah maupun para pemangku kepentingan merasa terlalu percaya diri atau lengah. Ia mengingatkan bahwa di balik angka penurunan tersebut, masih terdapat potensi ancaman yang perlu diantisipasi secara serius.

Edy menyampaikan bahwa kewaspadaan harus tetap menjadi prioritas utama, mengingat pada awal tahun 2026 saja masih tercatat sebanyak 2.220 kasus campak di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut belum sepenuhnya terkendali. Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah perlu terus memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian agar tidak terjadi lonjakan kasus di kemudian hari.

Lebih lanjut, Edy mengajak semua pihak untuk tidak hanya melihat penurunan angka kasus secara permukaan, tetapi juga memahami kondisi yang melatarbelakanginya. Ia menilai bahwa capaian tersebut harus dianalisis secara kritis dan mendalam. Menurutnya, salah satu faktor utama yang menyebabkan munculnya kembali kasus campak adalah belum tercapainya target imunisasi dasar dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menjelaskan bahwa penurunan kasus tidak serta-merta mencerminkan kondisi yang benar-benar aman. Sebaliknya, kondisi tersebut justru harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk melihat kembali pelaksanaan program imunisasi nasional. Edy menekankan pentingnya kejujuran dalam menilai capaian imunisasi, mengingat pada periode sebelumnya cakupan imunisasi dasar sempat mengalami penurunan dan tidak memenuhi target yang telah ditetapkan.

Dalam keterangannya kepada wartawan (6/4/2026), Edy menyebut bahwa permasalahan utama yang harus dihadapi saat ini adalah rendahnya cakupan imunisasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menjadi faktor yang memicu meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap penyakit campak, terutama pada kelompok anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Edy juga mengungkapkan bahwa lonjakan kasus yang sempat mencapai 2.220 merupakan dampak langsung dari melemahnya sistem imunisasi nasional. Ia merujuk pada data pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) per September 2022, yang menunjukkan bahwa cakupan vaksinasi Campak-Rubela secara nasional hanya mencapai 87,7 persen. Angka tersebut masih berada di bawah target yang seharusnya dicapai untuk menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari capaian di berbagai daerah. Edy menyoroti bahwa tidak ada satu pun provinsi di luar wilayah Jawa-Bali yang berhasil mencapai cakupan imunisasi sebesar 90 persen pada saat itu. Sementara itu, di wilayah Jawa-Bali sendiri, beberapa provinsi besar seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat juga tidak mampu memenuhi target minimal 95 persen. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam pelaksanaan program imunisasi di berbagai daerah.

Ia menilai bahwa ketimpangan tersebut menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko penyebaran campak di masyarakat. Ketika cakupan imunisasi tidak merata dan banyak anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap, maka potensi terjadinya wabah akan semakin besar. Oleh karena itu, Edy menekankan pentingnya pemerataan layanan kesehatan, khususnya dalam program imunisasi, agar seluruh anak di Indonesia mendapatkan perlindungan yang optimal.

Selain itu, Edy juga menyoroti dampak pandemi Covid-19 yang turut memperburuk kondisi program imunisasi di Indonesia. Selama masa pandemi, banyak layanan kesehatan yang mengalami gangguan, termasuk program imunisasi rutin. Pembatasan aktivitas masyarakat serta fokus penanganan pandemi menyebabkan pelaksanaan imunisasi tidak berjalan secara maksimal.

Akibatnya, terjadi penurunan signifikan dalam cakupan imunisasi selama periode tersebut. Edy menyebut bahwa pada rentang waktu 2019 hingga 2021, terdapat sekitar 1,7 juta bayi di Indonesia yang tidak memperoleh imunisasi lengkap. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, karena menciptakan kelompok besar anak-anak yang rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk campak.

Ia menegaskan bahwa meningkatnya insidensi campak dalam beberapa waktu terakhir merupakan konsekuensi dari kelalaian dalam pelaksanaan program vaksinasi yang tidak mencapai target. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk menjadikan hal ini sebagai pelajaran penting dalam memperbaiki sistem imunisasi ke depan.

Edy juga mendorong agar pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kembali cakupan imunisasi di seluruh wilayah Indonesia. Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti memperkuat sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, meningkatkan akses layanan kesehatan, serta memastikan ketersediaan vaksin di seluruh daerah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta masyarakat dalam mendukung keberhasilan program imunisasi. Tanpa adanya kerja sama yang baik dari semua pihak, target cakupan imunisasi yang optimal akan sulit untuk dicapai.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan dalam menurunkan kasus campak tidak boleh membuat pemerintah berhenti melakukan upaya pencegahan. Justru, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat sistem kesehatan dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Menurut Edy, langkah pencegahan yang konsisten dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga agar kasus campak tetap terkendali. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, serta melakukan pemantauan secara berkala terhadap capaian program imunisasi di seluruh daerah.

Dengan demikian, penurunan kasus campak yang terjadi saat ini dapat benar-benar menjadi indikator keberhasilan sistem kesehatan, bukan sekadar angka yang menutupi permasalahan yang masih ada. Edy berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada, sehingga masyarakat Indonesia dapat terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.

Pada akhirnya, Edy menegaskan bahwa kewaspadaan adalah kunci utama dalam menghadapi penyakit menular seperti campak. Penurunan angka kasus memang patut diapresiasi, namun tidak boleh membuat semua pihak merasa aman sepenuhnya. Upaya pencegahan harus terus ditingkatkan agar Indonesia dapat mencapai target eliminasi campak secara menyeluruh di masa mendatang.

Sumber: Tribunkesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *