Kondisi Sekolah di Pedalaman Kampar Memprihatinkan, Dinding Kayu Terbuka dan Fasilitas Tak Memadai

SELASIHMEDIA.COM – Perjuangan para siswa yang menempuh pendidikan di kelas jauh SDN 008 Kuntu Darussalam, Kecamatan Kampar Kiri, tergolong sangat berat dan penuh keterbatasan. Mereka harus bersekolah di tengah kawasan hutan konservasi yang jauh dari akses dan fasilitas umum yang memadai.

Lokasi sekolah tersebut berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang – Bukit Baling, yang secara geografis terpencil dan sulit dijangkau. Kondisi ini membuat proses belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang jauh dari standar kelayakan pendidikan pada umumnya.

Fasilitas ruang kelas yang digunakan para siswa pun sangat memprihatinkan. Bangunan kelas terbuat dari material sederhana dengan dinding kayu yang bersifat semi terbuka, sehingga tidak mampu melindungi secara maksimal dari cuaca.

Atap yang terbuat dari seng juga dalam kondisi bocor, terutama saat hujan turun, yang tentu mengganggu kenyamanan dan konsentrasi siswa dalam belajar. Dengan kondisi seperti ini, para pelajar yang masih berusia anak-anak harus beradaptasi dan tetap berjuang menuntut ilmu di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang ada.

Kepala sekolah SDN 008 Kuntu Darussalam, Rubi Yanti, mengakui bahwa kondisi ruang kelas tersebut memang belum layak digunakan untuk kegiatan belajar. Ia menjelaskan bahwa jumlah siswa di kelas jauh yang berada di Dusun Pematang Panjang, Desa Kuntu Darussalam, mencapai 57 orang. Namun, fasilitas ruang belajar yang tersedia hanya terdiri dari tiga ruangan yang kemudian disekat menjadi enam kelas.

“Semua enam kelas. Tapi ruang kelas cuma tiga yang disekat. Misalnya, kelas I dengan kelas II,” katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Senin (30/3/2026).

Sistem pembelajaran dilakukan dengan membagi ruang secara sederhana agar seluruh jenjang kelas tetap dapat berjalan, meskipun dalam kondisi terbatas. Dalam pelaksanaannya, kegiatan belajar mengajar di kelas jauh ini ditangani oleh enam orang guru, yang semuanya berstatus non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN).

Para guru tersebut mendapatkan penghasilan dari swadaya komite sekolah, sehingga kesejahteraan mereka juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakat setempat. Meskipun demikian, proses pendidikan tetap berada di bawah pengawasan sekolah induk.

Jarak antara sekolah induk yang berada di Jalan Raya Kuntu-Gema dengan lokasi kelas jauh mencapai sekitar 20 kilometer, dengan kondisi jalan tanah yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Rubi Yanti juga menjelaskan bahwa akses menuju lokasi sekolah sangat menantang. Perjalanan hanya dapat ditempuh menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

“Perjalanan dengan sepeda motor sekitar satu jam. Mobil tidak bisa lewat. Jalannya tanah licin, apalagi hujan,” katanya.

Kondisi jalan yang licin dan berlumpur sering kali menjadi hambatan utama, sehingga mobil tidak dapat digunakan untuk menjangkau lokasi tersebut. Keterbatasan jaringan komunikasi dan fasilitas pendukung lainnya juga berdampak pada pelaksanaan evaluasi belajar siswa. Meskipun kegiatan belajar dilakukan di kelas jauh, pelaksanaan ujian tetap harus dilakukan di sekolah induk.

“Karena jaringan nggak ada, fasilitas kurang, makanya ujian hanya bisa di sekolah induk,” ujarnya. Hal ini tentu menambah beban bagi siswa yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengikuti ujian.

Selain itu, jarak tempuh yang cukup jauh serta kondisi medan yang sulit membuat para siswa harus berangkat dari rumah sejak pagi hari. Mereka bahkan sudah memulai perjalanan selepas subuh agar dapat tiba di sekolah tepat waktu.

“Kalau ditanya berangkat jam berapa dari rumah, anak-anak bilang jam enam,” katanya. Rutinitas ini menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari mereka dalam memperoleh pendidikan.

Secara keseluruhan, kondisi yang dihadapi siswa dan tenaga pendidik di kelas jauh SDN 008 Kuntu Darussalam mencerminkan masih adanya ketimpangan akses pendidikan di daerah terpencil. Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat belajar para siswa dan dedikasi para guru tetap menjadi harapan utama agar pendidikan tetap berjalan.

Oleh karena itu, perhatian dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih layak dan optimal di masa mendatang.

Sumber: TribunPekanbaru.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *