Iran Tunjuk Pemimpin Baru Mojtaba Khamenei, Trump Tegaskan Pemimpin Iran Harus Disetujui Washington

SELASIHMEDIA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari Washington. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu, 8 Maret 2026.

“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump kepada ABC News. “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama.”Trump menyampaikan pernyataan itu dalam konteks situasi strategis di kawasan.

Ia menegaskan tidak ingin Amerika Serikat kembali terseret dalam konflik berkepanjangan dengan Iran di masa depan. “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Pernyataan tersebut langsung mendapat penolakan dari pejabat Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menegaskan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi merupakan urusan internal negara tersebut dan tidak dapat dicampuri oleh pihak luar.

Ia menyatakan bahwa proses tersebut adalah “urusan rakyat Iran semata” dan menolak segala bentuk campur tangan asing. Trump juga sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa ia berharap dapat terlibat secara pribadi dalam proses seleksi pemimpin Iran.

Dalam kesempatan yang sama, ia menepis nama Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi yang telah wafat, dengan menyebutnya sebagai “orang yang tidak berpengaruh”. Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat dan Israel diketahui melancarkan serangan gabungan terhadap Iran yang hingga Minggu telah memasuki hari kesembilan.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang.Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan pesawat tanpa awak dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Di tengah situasi tersebut, Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Ali Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989 hingga wafat pada 28 Februari lalu, saat gelombang pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam Teheran. Majelis Pakar Iran, lembaga yang memiliki kewenangan untuk memilih pemimpin tertinggi, mengumumkan pada Senin bahwa Mojtaba Khamenei telah dipilih sebagai pengganti setelah melalui proses pertimbangan yang mereka sebut sebagai “pertimbangan yang cermat dan menyeluruh.”

Majelis tersebut juga menyerukan kepada masyarakat Iran, khususnya kalangan elit serta intelektual dari seminari dan universitas, untuk menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru dalam upaya melanjutkan sistem pemerintahan Islam yang lahir setelah revolusi 1979 yang menggulingkan Shah Iran.

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 dan merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Ali Khamenei. Saat masih muda, ia pernah menjadi sukarelawan dalam Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Setelah itu, ia menempuh pendidikan agama di kota Qom, salah satu pusat utama teologi Syiah di Iran.

Beberapa anggota keluarga Mojtaba, termasuk saudara perempuannya, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya. Media Israel juga melaporkan bahwa Mojtaba mengalami luka dalam serangan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui sayap medianya, Sepah, telah menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi yang baru. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, juga menyampaikan apresiasi kepada Majelis Pakar yang tetap menggelar pertemuan di tengah serangan udara yang masih berlangsung, termasuk serangan terhadap markas Majelis di Qom pada pekan lalu.

Ia mengatakan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi berjalan tepat waktu dan tertib, meskipun ada “tipu daya musuh yang berharap terjadi kebuntuan” setelah wafatnya Ali Khamenei.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran kecuali melalui “penyerahan tanpa syarat”.

Situasi tersebut menandai babak baru dalam dinamika politik Iran sekaligus menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sumber: Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *