Miopia Tinggi Mengintai Anak, Deteksi Dini Tak Bisa Ditunda

SELASIHMEDIA.COM – Kasus Miopia atau rabun jauh pada anak usia sekolah di Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak di wilayah perkotaan, seperti Jakarta, yakni sekitar 53,4 persen, mengalami kondisi ini.

Jika tidak ditangani sejak dini, miopia berpotensi berkembang menjadi lebih parah dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan penglihatan serius di masa depan, bahkan hingga tahap yang lebih kompleks.

Dokter spesialis mata dari RS Mata Nasional Cicendo, Susanti, menjelaskan bahwa miopia pada anak sering kali berkembang tanpa disadari oleh orang tua maupun anak itu sendiri. Kondisi ini kemudian dapat berdampak langsung terhadap aktivitas belajar, terutama dalam kemampuan melihat objek yang berada pada jarak jauh, seperti tulisan di papan tulis di dalam kelas.

Miopia pada anak umumnya ditandai dengan sejumlah gejala yang cukup khas, seperti kesulitan melihat objek jauh dengan jelas, kebiasaan menyipitkan mata, posisi duduk yang terlalu dekat dengan layar atau papan tulis, hingga keluhan fisik seperti sakit kepala dan mata yang mudah lelah.

“Kondisi ini bisa dipicu oleh faktor antara lain riwayat keluarga, kebiasaan melihat pada jarak dekat dalam waktu lama, jarak baca yang terlalu dekat, serta kurangnya waktu beraktivitas di luar ruang,” kata Susanti di Jakarta, ditulis Sabtu (28/3/2026).

Pendapat serupa juga disampaikan oleh dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals & Clinics, Tri Rahayu, yang menegaskan bahwa semakin dini miopia muncul pada anak, maka semakin besar pula kemungkinan kondisi tersebut berkembang menjadi miopia tinggi. Kondisi ini berisiko memicu berbagai komplikasi serius, seperti kerusakan retina hingga kebutaan jika tidak ditangani dengan tepat.

Oleh karena itu, deteksi dan penanganan sejak tahap awal menjadi langkah yang sangat penting. Hal ini dapat dilakukan dengan mengenali gejala-gejala yang muncul serta memahami berbagai faktor risiko yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari anak.

“Upaya memperlambat progresivitas miopia sangat diperlukan untuk mencegah risiko komplikasi tersebut,” ujar Dr Tri Rahayu.

Sejumlah fasilitas layanan kesehatan kini mulai menyediakan ruang edukasi khusus guna membantu orang tua memahami kondisi miopia pada anak secara lebih komprehensif. Fasilitas ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait gejala, faktor risiko, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini agar kondisi tidak semakin memburuk.

Salah satu fasilitas tersebut adalah Essilor Stellest Corner, yang telah hadir di beberapa rumah sakit, termasuk RS Mata Nasional Cicendo. Ruang edukasi ini dirancang untuk membantu orang tua memperoleh pemahaman mengenai manajemen miopia, sekaligus mendukung tenaga medis dalam memberikan edukasi kepada keluarga terkait langkah pencegahan dan deteksi dini yang tepat.

Dalam penanganannya, terdapat berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk mengelola sekaligus memperlambat perkembangan miopia pada anak. Metode tersebut meliputi penggunaan kacamata, lensa kontak, terapi obat seperti atropin, hingga perkembangan teknologi optik terbaru.

Salah satu inovasi yang tersedia adalah desain lensa khusus seperti HALT (Highly Aspherical Lenslet Target), yang dikembangkan untuk membantu mengendalikan progresivitas miopia, meskipun tingkat efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu.

Setiap metode penanganan memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing, sehingga pemilihannya perlu dipertimbangkan secara matang bersama tenaga medis yang berkompeten. Kombinasi antara deteksi dini, perubahan kebiasaan visual sehari-hari, serta pemantauan rutin menjadi kunci utama dalam upaya mengurangi risiko gangguan penglihatan akibat miopia pada anak di masa mendatang.

Sumber: Tribunkesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *