SELASIHMEDIA.COM – Penyakit autoimun tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Kondisi ini muncul ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari serangan infeksi, justru keliru mengenali sel dan jaringan sehat sebagai ancaman, lalu menyerangnya.
Akibatnya, tubuh mengalami peradangan kronis yang dapat memengaruhi berbagai organ dan sistem penting. Di Indonesia, jumlah penderita penyakit autoimun tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kasus diperkirakan telah melampaui 2,5 juta orang.
Angka ini menunjukkan bahwa autoimun bukan lagi penyakit yang jarang terjadi, melainkan sudah menjadi isu kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan. Secara global, lebih dari 100 jenis penyakit autoimun telah berhasil diidentifikasi.
Beberapa di antaranya bersifat spesifik, hanya menyerang organ tertentu seperti kelenjar tiroid atau kulit. Namun, ada pula yang bersifat sistemik, yakni memengaruhi banyak organ sekaligus, mulai dari kulit, sendi, paru-paru, saluran pencernaan, sistem saraf, hingga kelenjar endokrin. Kompleksitas ini membuat diagnosis dan penanganannya sering kali tidak sederhana.
Menurut dr. Syahrizal, seorang dokter spesialis alergi dan imunologi di Primaya Hospital, penyebab penyakit autoimun tidak tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor.
“Resiko autoimun diketahui lebih tinggi pada perempuan usia produktif, terutama bila terdapat riwayat keluarga dengan penyakit autoimun,” kata dia ditulis di Jakarta, Senin, (16/3).
Selain faktor genetik, terdapat sejumlah faktor lain yang turut berkontribusi terhadap munculnya penyakit ini. Infeksi tertentu, stres berkepanjangan, ketidakseimbangan hormon, hingga paparan lingkungan seperti polusi udara dan bahan kimia berbahaya termasuk asap rokok dapat memicu atau memperburuk kondisi autoimun.
Tidak hanya itu, pola makan yang tidak seimbang serta gaya hidup yang kurang sehat juga dapat melemahkan regulasi sistem imun dan memicu peradangan yang berkelanjutan dalam tubuh. Menariknya, penyakit autoimun jauh lebih banyak ditemukan pada perempuan, khususnya dalam rentang usia 15 hingga 44 tahun.
Data dari Global Autoimmune Institute tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78 persen penderita autoimun adalah perempuan. Hal ini diduga berkaitan erat dengan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, seperti keberadaan kromosom X tambahan, fluktuasi hormon terutama estrogen serta perbedaan dalam respons sistem imun.
Apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit autoimun dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Kerusakan organ permanen menjadi salah satu risiko utama, misalnya kerusakan ginjal pada lupus atau gangguan sistem saraf pada multiple sclerosis.
Selain itu, penderita juga berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung serta gangguan dalam kehamilan, termasuk keguguran. Dampak autoimun tidak hanya terbatas pada kondisi fisik.
Secara psikologis, banyak pasien mengalami tekanan mental seperti kecemasan, depresi, hingga penurunan kualitas hidup akibat kondisi yang bersifat kronis dan membutuhkan pengelolaan jangka panjang.
Tanda dan Gejala Autoimun
Gejala penyakit autoimun sangat bervariasi, tergantung pada organ mana yang terdampak. Namun demikian, terdapat beberapa tanda umum yang sering dialami oleh penderita.
Di antaranya adalah rasa lelah yang berat dan berkepanjangan, nyeri atau pembengkakan pada sendi, munculnya ruam pada kulit atau sensitivitas tinggi terhadap sinar matahari, gangguan pencernaan yang terjadi berulang, serta demam yang datang tanpa penyebab yang jelas.
Sayangnya, gejala-gejala tersebut kerap dianggap sebagai keluhan kesehatan ringan atau sementara. Akibatnya, banyak pasien baru mencari pertolongan medis ketika kondisi sudah berkembang menjadi lebih serius atau kronis.
“Mengenali gejala sejak dini memiliki peran besar dalam keberhasilan penanganan,” tutur dr. Syahrizal.
Oleh karena itu, apabila seseorang mulai merasakan gejala-gejala tersebut secara berulang atau berkepanjangan, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Diagnosis penyakit autoimun idealnya dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi khusus di bidang ini, melalui tahapan yang komprehensif.
Proses tersebut meliputi pengumpulan riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, evaluasi gejala klinis, pemeriksaan fisik secara menyeluruh, serta serangkaian tes laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Selain penanganan medis, dukungan psikologis dan peran keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pengelolaan penyakit autoimun.
Mengingat sifatnya yang kronis, pasien membutuhkan pendampingan emosional agar dapat menjalani pengobatan dengan konsisten dan menjaga kualitas hidup tetap optimal. Pada akhirnya, penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja, namun kelompok dengan risiko tertinggi tetap berada pada perempuan di usia produktif.
Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap gejala awal sangat penting. Jika Anda atau anggota keluarga mengalami keluhan yang tidak kunjung membaik, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Sumber: Tribunkesehatan
