Kisah Mulyadi Tempuh Lintas Sumatera Bawa Rp50 Juta untuk THR Keluarga

SELASIHMEDIA.COM – Sosok Mulyadi menjadi perhatian publik di tengah arus mudik Lebaran tahun ini, terutama karena kisah perjalanannya yang melintasi jalur Lintas Sumatera. Aksinya yang tidak biasa membuat banyak orang terkesan, terlebih ia membawa uang tunai dalam jumlah besar, yakni Rp50 juta, untuk dibagikan sebagai tunjangan hari raya (THR) kepada keluarga di kampung halaman.

Tindakan tersebut tidak hanya mencerminkan kepedulian sosial, tetapi juga menunjukkan komitmennya dalam berbagi kebahagiaan di momen Lebaran yang penuh makna. Hal yang semakin menarik perhatian adalah dedikasi Mulyadi dalam menjaga uang yang dibawanya tetap aman selama perjalanan panjang di jalur Lintas Sumatera.

Ia bahkan dikabarkan tidak beristirahat selama dua hari penuh demi memastikan perjalanan tetap aman tanpa gangguan. Upaya tersebut menggambarkan keseriusan dan tanggung jawabnya dalam menjalankan niat berbagi, sekaligus menunjukkan ketangguhan fisik dan mentalnya di usia yang tidak lagi muda.

Mulyadi diketahui berasal dari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Di usianya yang ke-63 tahun, aksinya menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, khususnya dalam momentum mudik Lebaran. Banyak yang menilai sikapnya mencerminkan kerendahan hati dan semangat berbagi yang tinggi, sehingga ia kerap disamakan dengan sosok “Sultan” karena kedermawanannya.

Perjalanan yang ditempuh Mulyadi pun tidak sederhana. Ia menempuh ribuan kilometer dari Jakarta menuju kampung halaman dengan melintasi jalur Lintas Sumatera menggunakan mobil Mitsubishi Xpander miliknya. Jalur ini dikenal memiliki medan yang cukup menantang, mulai dari jalan panjang antarprovinsi hingga potensi kemacetan di titik-titik tertentu.

Meski demikian, perjalanan tersebut tetap ia jalani demi memastikan dapat tiba tepat waktu dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Dalam perjalanannya di Lintas Sumatera, Mulyadi juga membawa lima anggota keluarga, termasuk keponakan, istri keponakan, serta tiga orang cucu.

Perjalanan panjang dengan kondisi jalan yang beragam tentu menjadi tantangan tersendiri, apalagi dengan minimnya waktu istirahat. Namun, ia tetap terlihat bugar dan penuh semangat, menunjukkan ketahanan fisik yang luar biasa selama perjalanan mudik tersebut. Bagi Mulyadi, tradisi berbagi rezeki kepada keluarga dan kerabat merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan setiap Lebaran.

Membawa THR dalam jumlah besar bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari nilai spiritual yang ia yakini. Ia melihat perjalanan panjang melintasi Lintas Sumatera sebagai bagian dari perjuangan untuk menunaikan niat baik tersebut, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.

“Alhamdulillah, berbagi itu tidak rugi,” ujar Mulyadi dikutip dari Kompas.com, Minggu (22/3/2026). “Doa dari orang kampung itu yang mengalir ke kita,” lanjutnya.

Mulyadi juga menceritakan detail perjalanannya saat melintasi rute utama menuju Sumatera. Ia tiba di Pelabuhan Merak sekitar pukul 00.00 WIB, kemudian menyeberang menuju Bakauheni dan tiba sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Dari titik tersebut, ia melanjutkan perjalanan melalui jalur Lintas Sumatera menuju Sumatera Barat.

Pengalaman panjangnya sejak merantau ke Jakarta pada tahun 1990, serta pekerjaannya di bidang ekspedisi pakaian, membuatnya sangat memahami berbagai jalur alternatif untuk menghindari kemacetan di sepanjang rute tersebut.

Selain mempersiapkan kondisi fisik, hal penting lain yang tidak luput dari perhatiannya adalah dana THR yang akan dibagikan kepada keluarga besar di kampung halaman. Ia mengaku selalu membawa uang tunai dalam jumlah besar setiap kali pulang kampung saat Lebaran, termasuk selama perjalanan melalui Lintas Sumatera, sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga dan lingkungan sekitar.

“Kalau pulang kampung pas Lebaran, paling sedikit Rp 50 juta saya bawa. Buat THR cucu, ponakan, bantu saudara, sampai traktir kawan di lapau,” kata Mulyadi.

Bagi Mulyadi, kebiasaan berbagi tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar materi. Ia meyakini bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan kembali dalam bentuk doa dan keberkahan dari orang-orang di kampung halaman. Nilai inilah yang terus ia pegang teguh, bahkan selama menempuh perjalanan panjang melintasi Lintas Sumatera.

“Alhamdulillah, berbagi itu tidak rugi. Doa dari orang kampung itu yang mengalir ke kita,” ujarnya.

Sebagai perantau asal Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Mulyadi berharap dapat tiba tepat waktu di kampung halamannya setelah menempuh jalur Lintas Sumatera. Ia ingin merasakan suasana malam takbiran bersama keluarga dan masyarakat sekitar, sekaligus melanjutkan tradisi berbagi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Sumber: TribunPekanbaru.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *