SELASIHMEDIA.COM – Serangan balasan Iran ke sejumlah wilayah di Timur Tengah yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dikomandoi oleh Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Unit militer ini merupakan salah satu cabang elite dalam struktur Angkatan Bersenjata Iran yang memiliki kedudukan setara dengan militer reguler negara tersebut. IRGC dikenal memiliki peran penting dalam menjaga kepentingan rezim serta mengawasi berbagai program strategis Iran, termasuk program nuklir.
Dengan tugas dan pengaruh yang dimilikinya, IRGC diperkirakan akan merespons secara keras atas kematian Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Menariknya, mengutip ulasan analis dan jurnalis WN, Tarun Mishra, IRGC disebut dapat mengambil langkah-langkah yang sangat ekstrem untuk membalas kematian Khamenei, bahkan jika hal itu berisiko membuat Iran hancur akibat perang terbuka melawan AS dan Israel.
“Untuk memahami langkah IRGC selanjutnya, Anda harus memahami ideologi mereka. Bagi Garda Revolusi, Khamenei bukan hanya seorang presiden atau perdana menteri; dia adalah “Bayangan Tuhan di Bumi.” Pembunuhannya tidak dipandang sebagai kekalahan militer semata,” tulis Mishra dalam ulasannya, dikutip Kamis (5/3/2026).
Menurut Mishra, bagi kalangan garis keras di jajaran tertinggi IRGC, kematian Khamenei dipandang sebagai bentuk penodaan agama yang bersifat apokaliptik.
“Perhitungan geopolitik rasional, seperti melindungi ekonomi atau meminimalkan korban sipil, telah diabaikan begitu saja. Satu-satunya respons yang dapat diterima adalah pertumpahan darah maksimal,” tulis analis geopolitik tersebut.
Dead Man’s Switch
Mishra menjelaskan bahwa serangan AS dan Israel yang melumpuhkan serta menyingkirkan sejumlah komando tertinggi Iran justru dapat menimbulkan konsekuensi lain yang lebih berbahaya.
“Ketika Anda memenggal kepala jaringan militer yang terdesentralisasi dan bersenjata lengkap, jaringan itu tidak menyerah, melainkan hancur berkeping-keping. Kendali atas silo rudal balistik dan kawanan drone Iran yang sangat besar kini kemungkinan besar jatuh ke tangan para jenderal IRGC garis keras yang membangkang,” katanya.
Tanpa kehadiran Khamenei sebagai figur penyeimbang dalam pengambilan keputusan strategis, para komandan tersebut dinilai tidak lagi memiliki banyak hal untuk dipertahankan. Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei sebelumnya diketahui pernah mengharamkan penggunaan nuklir sebagai senjata. Namun doktrin tersebut dikhawatirkan dapat berubah seiring wafatnya sang pemimpin.
“Mereka kini beroperasi dengan metode “Dead Man’s Switch,” di mana penghancuran total musuh mereka membenarkan penghancuran total negara mereka sendiri,” kata Mishra.
Sebelum serangan udara gabungan AS-Israel terjadi, Iran diketahui telah menimbun sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen. Sebagian besar material tersebut disebut disimpan di kompleks terowongan bawah tanah yang sangat dalam, seperti yang berada di Isfahan, dan dilaporkan selamat dari serangan pemboman awal AS dan Israel.
“Dengan inspektur internasional yang dilarang masuk dan rezim yang berjuang untuk mempertahankan keberadaannya, IRGC memiliki insentif untuk mempercepat proses peningkatan kemurnian uranium hingga 90% untuk keperluan senjata nuklir,” kata dia.
Menurut Mishra, kepemimpinan IRGC yang tersisa tidak lagi fokus membangun sistem pencegah perang, tetapi justru berlomba menciptakan senjata yang dapat digunakan dalam konflik besar.
Mempersenjatai Penduduk Sipil
Mishra juga menjelaskan bahwa apabila AS dan Israel meningkatkan serangan udara menjadi operasi militer darat, IRGC diperkirakan tidak akan menghadapi mereka secara langsung di medan terbuka.
“Mereka akan menarik perang langsung ke pusat-pusat kota padat di Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Dengan menempatkan peluncur rudal bergerak mereka yang masih berfungsi di dalam lingkungan sipil, rumah sakit, dan sekolah, IRGC secara efektif mengubah jutaan warga Iran menjadi perisai manusia,” kata dia.
Strategi tersebut, menurut Mishra, berpotensi memicu korban sipil dalam jumlah besar apabila AS atau Israel melakukan serangan untuk menghancurkan sistem peluncur rudal tersebut.
Melepaskan ‘Cincin Api’
Selama bertahun-tahun, Iran diketahui mengelola jaringan kelompok proksi di kawasan Timur Tengah seperti Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak. Kelompok-kelompok ini biasanya digunakan untuk melakukan tekanan militer dalam skala terbatas. Namun Mishra menilai kendali terhadap jaringan tersebut kini berpotensi melemah.
“Dalam skenario misi bunuh diri, IRGC akan memerintahkan peluncuran total dan tanpa koordinasi dari setiap roket, drone, dan rudal balistik dalam persenjataan Poros Perlawanan. Mereka akan secara bersamaan menargetkan Tel Aviv, kapal perusak angkatan laut AS, dan kilang minyak negara-negara Teluk Arab,” ungkap Mishra.
Mishra juga menilai IRGC memahami bahwa langkah tersebut dapat memicu serangan balasan yang sangat besar dari AS dan Israel, yang bahkan berpotensi menghancurkan Iran secara total.
“Tetapi dalam keadaan amarah keagamaan mereka saat ini, pemusnahan bersama dianggap sebagai kemenangan,” kata dia.
Sumber:Tribunnews.com
