SELASIHMEDIA.COM – Pada Minggu pagi (15/3/2026), suasana dapur sebuah rumah yang berada di Jalan Pancur Mas, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar, Bengkulu sudah dipenuhi aktivitas sejak dini hari. Dari dalam dapur, tampak uap tipis mengepul dari kukusan adonan, sementara aroma manis kue yang sedang dipanggang menyebar hingga ke halaman rumah.
Beberapa pekerja terlihat sibuk merapikan dan membungkus pesanan yang jumlahnya terus bertambah. Pemandangan seperti ini hampir selalu terjadi setiap bulan Ramadan. Di tempat tersebut, berbagai makanan khas Bengkulu diproduksi setiap hari untuk memenuhi permintaan masyarakat yang mencari hidangan berbuka puasa maupun oleh-oleh menjelang Idul Fitri.
Rumah produksi Jaya Rasa Abadi menjadi salah satu sentra pengolahan kuliner tradisional Bengkulu yang mengalami peningkatan permintaan cukup signifikan setiap tahunnya saat Ramadan. Produk yang dihasilkan tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah sebagai buah tangan khas Bengkulu.
Kerupuk Tuiri, Inovasi dari Limbah Menjadi Kuliner Bernilai Ekonomi
Di antara beragam produk yang dihasilkan di dapur tersebut, salah satu yang paling menarik perhatian adalah kerupuk tuiri. Camilan gurih ini dibuat dari bahan dasar tulang ikan tenggiri. Bahan yang sebelumnya sering dianggap sebagai limbah kini berhasil diolah menjadi produk kuliner khas Bengkulu yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Pemilik Jaya Rasa Bengkulu, Muhammad Rofiq Akbar, menjelaskan bahwa ide pembuatan kerupuk tersebut muncul ketika ia melihat banyak tulang ikan yang terbuang percuma.
“Saya melihat tulang ikan tenggiri ini sebenarnya masih punya potensi. Dari situ saya mencoba mengolahnya hingga menjadi kerupuk tuiri yang renyah dan aman dikonsumsi,” ujarnya saat ditemui di lokasi produksi.
Proses pengolahan kerupuk tuiri cukup panjang dan membutuhkan beberapa tahapan. Tulang ikan terlebih dahulu dibersihkan hingga benar-benar steril, kemudian direbus sampai teksturnya lunak. Setelah itu tulang digiling hingga halus sebelum dicampurkan dengan berbagai bumbu.Adonan yang telah tercampur kemudian dikukus dan dijemur hingga kering sebelum akhirnya siap diolah menjadi kerupuk.
“Inovasi ini bukan hanya mengurangi limbah, tapi juga membuka peluang usaha baru. Sekarang kerupuk tuiri sudah menjadi salah satu makanan khas Bengkulu yang banyak dicari,” katanya.
Selama bulan Ramadan, kerupuk tuiri sering dijadikan pelengkap hidangan berbuka puasa. Teksturnya yang renyah dengan cita rasa gurih khas ikan membuat camilan ini cocok disajikan bersama berbagai menu rumahan.
Bay Tat dan Lempuk Durian Tetap Menjadi Favorit
Selain kerupuk tuiri, dapur Jaya Rasa juga memproduksi dua kuliner khas Bengkulu yang sudah sangat dikenal masyarakat, yaitu kue bay tat dan lempuk durian. Kedua makanan tradisional tersebut hampir selalu hadir di meja tamu saat bulan puasa hingga perayaan Lebaran.
Kepala Produksi Jaya Rasa Bengkulu, Yulianti, menjelaskan bahwa bay tat memiliki ciri khas berupa lapisan selai nanas di bagian atas kue, sedangkan lempuk durian dikenal dengan rasa manis legit yang berasal dari buah durian.
“Kue bay tat dan lempuk durian selalu jadi favorit. Banyak yang membeli untuk hidangan keluarga, tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya oleh-oleh,” katanya.
Di ruang produksi, beberapa pekerja terlihat dengan telaten mengoleskan selai nanas di atas adonan bay tat sebelum kue tersebut dipanggang. Aroma manis dari kue yang sedang dipanggang pun menyebar hingga ke halaman rumah. Menurut Yulianti, permintaan kedua makanan khas Bengkulu tersebut hampir selalu mengalami peningkatan menjelang Lebaran.
“Setiap tahun menjelang Lebaran pesanan meningkat tajam. Bahkan kami harus menambah produksi supaya semua permintaan terpenuhi,” ujarnya.
Omzet Penjualan Meningkat Hingga Dua Kali LipatLonjakan permintaan selama Ramadan juga berdampak langsung pada peningkatan penjualan. Usaha kuliner Jaya Rasa Bengkulu dilaporkan mengalami kenaikan omzet hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
Untuk mengantisipasi tingginya permintaan tersebut, kapasitas produksi pun ditingkatkan secara signifikan. Jam kerja para pekerja diperpanjang dan persediaan bahan baku disiapkan sejak jauh-jauh hari agar produksi dapat berjalan lancar.
“Kalau tidak ditambah produksinya, pesanan bisa menumpuk. Apalagi banyak pelanggan tetap yang sudah memesan sejak awal Ramadan,” kata Yulianti.
Tidak hanya konsumen lokal yang datang membeli, pelanggan dari luar kota juga ikut menyumbang peningkatan penjualan. Banyak dari mereka mencari makanan khas Bengkulu untuk dijadikan oleh-oleh ketika pulang ke kampung halaman.
Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Meningkatnya permintaan makanan khas Bengkulu ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Selain rasanya yang khas, unsur nostalgia serta identitas budaya juga menjadi daya tarik yang membuat makanan tradisional tetap diminati. Rofiq menilai bahwa Ramadan dan Lebaran merupakan momentum penting bagi para pelaku usaha kuliner tradisional.
“Bulan puasa itu waktunya orang berkumpul dengan keluarga. Mereka biasanya ingin menyajikan makanan khas daerah, termasuk kerupuk tuiri, bay tat, dan lempuk durian,” ujarnya.
Selain memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, aktivitas produksi ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sebagian besar pekerja yang membantu proses produksi berasal dari lingkungan sekitar rumah produksi tersebut.
“Alhamdulillah, saat permintaan meningkat seperti sekarang, kami bisa melibatkan lebih banyak warga untuk membantu produksi,” katanya.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Bagi masyarakat Bengkulu, makanan khas bukan sekadar hidangan untuk dinikmati. Di balik setiap makanan tradisional, tersimpan cerita tentang kenangan masa kecil, tradisi keluarga, serta identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dapur Jaya Rasa Bengkulu, hal tersebut terasa nyata.
Kerupuk tuiri yang dijemur di halaman, kue bay tat yang dipanggang berderet di oven, hingga lempuk durian yang dikemas dengan rapi menjadi gambaran kecil dari kekayaan kuliner daerah tersebut. Menjelang waktu berbuka puasa, aktivitas di dapur mulai berkurang.
Namun pesanan yang terus berdatangan memastikan bahwa dapur tersebut akan kembali sibuk sejak pagi hari berikutnya. Ramadan mungkin hanya berlangsung selama satu bulan, tetapi kecintaan masyarakat terhadap kuliner khas Bengkulu tampaknya akan terus bertahan dan menjadi bagian dari tradisi yang tidak lekang oleh waktu.
Sumber: TribunBengkulu.com
