SELASIHMEDIA.COM – Di tengah perkembangan industri fesyen modern yang semakin didominasi produk berbasis mesin, semangat generasi muda untuk menjaga warisan budaya Melayu masih terus tumbuh di Provinsi Riau. Salah satu contohnya terlihat di Candafa Tekat Tiga Dara, sebuah usaha tenun dan batik di Kota Pekanbaru yang aktif melestarikan tradisi menenun sekaligus mengajak kaum muda untuk mengenal budaya daerah. Tempat ini tidak hanya menjadi ruang produksi kain tradisional, tetapi juga wadah pewarisan nilai budaya Melayu kepada generasi muda agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Afifah Safni, perempuan berusia 22 tahun, menjadi salah satu sosok muda yang memilih menekuni dunia tenun tradisional. Dengan penuh kesabaran, ia mengoperasikan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk menghasilkan kain tenun khas Melayu. Gerakan tangannya tampak terampil saat menyusun benang demi benang hingga membentuk motif yang indah dan bernilai seni tinggi. Proses menenun secara manual tersebut membutuhkan ketelitian, konsentrasi, dan waktu yang tidak singkat. Untuk menyelesaikan satu lembar kain sepanjang sekitar 2,5 meter, Afifah memerlukan waktu kurang lebih dua minggu, tergantung tingkat kesulitan motif yang dibuat.
Candafa Tekat Tiga Dara yang berlokasi di Jalan Dahlia Gang Jati, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, menjadi tempat Afifah mengembangkan kemampuannya dalam menenun dan membatik. Nama “Tekat” diambil dari seni sulaman menggunakan benang emas atau perak yang identik dengan budaya Melayu, sedangkan “Tiga Dara” terinspirasi dari pemilik usaha yang memiliki tiga anak perempuan. Meski berada di ruang yang sederhana, tempat usaha ini mampu menghasilkan berbagai produk tenun berkualitas, mulai dari kain, selendang, tanjak, hingga berbagai aksesori khas Melayu lainnya.
Usaha yang dibina oleh Tengku Syarifah Nurila Zahara tersebut juga mampu memberikan hasil ekonomi yang cukup menjanjikan. Omzet yang diperoleh berkisar antara Rp7 juta hingga Rp10 juta per bulan. Produk-produk tenun hasil karya mereka dipasarkan kepada masyarakat yang masih memiliki minat tinggi terhadap kain tradisional berkualitas. Tingginya minat pembeli menunjukkan bahwa produk tenun manual tetap memiliki tempat tersendiri di tengah maraknya produk pabrikan.
Afifah mengaku telah memiliki ketertarikan terhadap dunia fesyen sejak lama. Setelah menempuh pendidikan di Jurusan Fashion Desain SMKN 3 Pekanbaru, ia memutuskan untuk mendalami tenun tradisional dan mulai merancang produk sendiri. Beberapa hasil desainnya dipromosikan melalui media sosial dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Menurut Afifah, tenun manual memiliki keunggulan dibandingkan produk mesin karena setiap motif dapat dibuat secara khusus dan memiliki nilai seni yang lebih kuat. Ia percaya bahwa tenun tradisional akan tetap diminati karena menghadirkan kesan eksklusif dan bernilai budaya tinggi. Melalui aktivitas menenun dan membatik, Afifah berharap semakin banyak anak muda Riau yang tertarik melestarikan budaya Melayu sekaligus menjadikannya sebagai peluang usaha kreatif yang menjanjikan.
Sumber: Tribun Pekanbaru
