Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan Dunia, Tiket Pesawat Asia–Eropa Melonjak

SELASIHMEDIA.COM – Harga tiket pesawat untuk rute Asia menuju Eropa dilaporkan mengalami lonjakan tajam setelah sejumlah pusat penerbangan utama di kawasan Timur Tengah ditutup. Kenaikan harga tiket yang signifikan ini merupakan dampak dari meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Situasi tersebut membuat kapasitas penerbangan menyusut drastis, sementara tiket pada sejumlah rute populer habis terjual selama beberapa hari.

Penutupan sejumlah bandara yang selama ini menjadi titik transit penting di Timur Tengah juga menjadi faktor utama melonjaknya harga tiket. Kondisi ini memaksa maskapai penerbangan untuk mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan biaya operasional lebih besar. Salah satu bandara yang terdampak adalah Bandara Internasional Dubai yang dikenal sebagai bandara tersibuk di dunia dengan kapasitas normal lebih dari 1.000 penerbangan per hari. Hingga Rabu (4/3/2025), bandara tersebut masih ditutup dan telah memasuki hari kelima penutupan.

Penutupan beberapa bandara di kawasan Timur Tengah juga mengurangi secara drastis kapasitas penerbangan pada rute padat seperti Australia menuju Eropa. Maskapai yang paling merasakan dampak dari situasi ini antara lain Emirates dan Qatar Airways, yang selama ini memiliki pangsa pasar besar pada jalur penerbangan tersebut.

Sementara itu di Australia, perusahaan perjalanan Flight Centre Travel Group mencatat peningkatan signifikan pada jumlah panggilan ke toko dan layanan bantuan darurat. Sejak krisis di Iran dimulai, lonjakan panggilan tercatat mencapai 75 persen. Direktur Pelaksana Global Flight Centre Travel Group, Andrew Stark, menyampaikan bahwa banyak warga Australia kini mengalihkan pemesanan penerbangan mereka melalui pusat transit alternatif seperti di China, Singapura, dan Amerika Serikat.

Salah satu penumpang yang terdampak situasi ini adalah Charlotte Kennard bersama ayahnya, Richard. Dikutip dari Reuters, keduanya semula dijadwalkan terbang dari Birmingham menuju Sydney melalui Dubai pada Minggu lalu. Namun rencana perjalanan tersebut gagal terlaksana setelah konflik di Iran semakin memanas. Meskipun maskapai sempat menyampaikan bahwa mereka masih memantau perkembangan situasi, Kennard dan ayahnya justru mengetahui penerbangan mereka telah dibatalkan ketika tiba di bandara.

Kennard akhirnya berhasil memperoleh kursi penerbangan Singapore Airlines dari London dengan harga 1.900 poundsterling atau sekitar Rp38.600.000 per orang untuk tiket sekali jalan. Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan tiket pulang-pergi yang sebelumnya mereka pesan, yakni sebesar A$2.300 atau sekitar Rp23.700.000.

“Tinggal di Australia, kami umumnya cukup jauh dari konflik dan saya pikir berada lebih dekat dengan situasi tersebut menimbulkan rasa takut dan stres yang baru,” ujar Kennard. “Pada akhirnya, kami hanya menantikan untuk melihat rumah, keluarga, dan anjing kami lagi.” lanjutnya.

Di tengah kondisi tersebut, maskapai yang masih mengoperasikan penerbangan nonstop Asia-Eropa kini harus memutar rute untuk menghindari wilayah udara Timur Tengah yang ditutup. Beberapa jalur alternatif yang digunakan antara lain rute utara melalui kawasan Kaukasus dan Afghanistan, atau rute selatan melalui Mesir, Arab Saudi, dan Oman.

Namun penggunaan jalur alternatif tersebut membuat waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama serta meningkatkan konsumsi bahan bakar. Kondisi ini turut memicu kenaikan biaya operasional maskapai, terlebih di tengah melonjaknya harga minyak dunia.

“Saat ini seluruh Timur Tengah berada di luar jangkauan, yang merupakan harga mahal bagi beberapa maskapai penerbangan,” kata Subhas Menon, kepala Association of Asia Pacific Airlines. “Jika kemudian Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan terganggu. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas.” sambung Subhas.

Lonjakan Harga Fantastis di Maskapai Alternatif

Lembaga konsultan Alton Aviation menyatakan bahwa maskapai yang masih mengoperasikan layanan penerbangan nonstop atau transit di luar wilayah konflik diperkirakan akan memperoleh keuntungan jangka pendek. Hal ini terjadi karena banyak penumpang beralih dari maskapai-maskapai yang berbasis di kawasan Teluk.

Beberapa maskapai yang saat ini menjadi pilihan utama penumpang antara lain Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines. Meningkatnya permintaan terhadap maskapai-maskapai tersebut turut mendorong kenaikan harga tiket yang ditawarkan di pasaran. Berdasarkan data pada situs resmi maskapai pada Selasa (4/3/2026), ketersediaan kursi pada maskapai-maskapai tersebut sangat terbatas dengan harga yang cukup tinggi.

Sebagai contoh, pada situs Cathay Pacific, tiket kelas ekonomi untuk rute Hong Kong menuju London baru tersedia pada 11 Maret dengan harga satu kali jalan sebesar HK$21.158 atau sekitar Rp42.600.000. Sementara itu, Qantas Airways bahkan tidak menawarkan tiket kelas ekonomi melalui rute normal Perth atau Singapura hingga 17 Maret. Untuk rute menuju Eropa melalui Perth atau Singapura, tiket yang tersedia dibanderol dengan harga A$3.129 atau sekitar Rp35.000.000.

Maskapai Thai Airways juga mengalami kondisi serupa. Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, menyampaikan bahwa wisatawan dari Eropa kini lebih memilih penerbangan langsung menuju negara tujuan. Ia juga mengungkapkan bahwa tiket penerbangan Bangkok menuju London di situs Thai Airways telah habis terjual hingga akhir pekan depan. Phiphat menyebutkan harga tiket untuk keberangkatan pada 15 Maret mencapai 71.190 baht atau sekitar Rp35.700.000.

Maskapai asal Taiwan, EVA Airways, serta sejumlah maskapai dari China daratan juga melaporkan peningkatan pemesanan yang cukup signifikan. Sebagai gambaran, tiket kelas ekonomi untuk rute Beijing menuju London yang biasanya dijual di bawah 10.000 yuan atau sekitar Rp22.900.000 kini hampir tidak tersedia. Air China bahkan hanya menyisakan opsi kelas bisnis untuk penerbangan dalam waktu dekat dengan harga mencapai 50.490 yuan atau sekitar Rp110.000.000.

Lonjakan harga tiket ini diperkirakan masih akan berlangsung selama situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah belum kembali stabil, terutama jika penutupan wilayah udara dan bandara utama di kawasan tersebut terus berlanjut.

Sumber: TribunPekanbaru.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *